Museum Sandi Negara Membagi Cerita tentang Penyadapan

Replika sepeda yang pernah dipakai petugas sandi dalam tugas

Replika sepeda yang pernah dipakai petugas sandi dalam tugas

Menurut Syahrul Mubarak SIP MM dari Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), penyadapan telepon yang dialami oleh pemimpin RI beberapa waktu lalu adalah risiko dari alat telekomunikasi yang menggunakan gelombang elektromagnetik. Jadi wajar saja, jika negara yang memiliki teknologi informasi dan peralatan yang lebih canggih akan mudah menyadap semua alat yang menggunakan gelombang elektromagnetik.

Di sinilah tugas Lembaga Sandi Negara untuk membuat sandi agar informasi rahasia negara itu tidak mudah dibaca oleh pihak lain. Komunikasi tersadap boleh, kata Syahrul Mubarak, asalkan informasinya tidak dipahami oleh pihak penyadap. Kalaupun terbaca membutuhkan waktu yang lama, saat informasi itu sudah usang.

Penjelasan itu disampaikan Syahrul Mubarak, Deputi Bidang Pengamanan Persandian Lemsaneg, dalam dialog “Sosialisasi dan Pameran Museum Sandi” yang digelar di King’s Hotel Wates Kulon Progo pada Selasa, 26 November 2013.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan tentang tugas pokok Lemsaneg, antara lain menjadi penyelenggara dan pembina tunggal persandian negara dalam menjamin keamanan informasi berklasifikasi milik pemerintah atau negara serta menyajikan hasil pengupasan informasi bersandi guna turut serta menjaga keamanan nasional.

Mayjen TNI dr Roebiono Kertopati tokoh persandian Indonesia

Mayjen TNI dr Roebiono Kertopati tokoh persandian Indonesia

Selain itu juga dipaparkan mengenai sejarah Lembaga Sandi Negara dan juga Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) yang diperuntukkan bagi pelajar lulusan SMA sederajat dari Sabang sampai Merauke. Jadi sekolah tersebut untuk umum, namun dengan program ikatan dinas.

Kegiatan sosialisasi dan pameran ini dihadiri lebih dari 100 peserta, mayoritas adalah pelajar setingkat SMP dan SMA di wilayah Kulon Progo, guru, pemerhati budaya, birokrat, pengelola museum, dan wartawan. Usai kegiatan sosialisasi, dilanjutkan meninjau Pameran Museum Sandi yang digelar di tempat yang sama. Dalam pameran ini ditampilkan berbagai koleksi, seperti replika sepeda yang biasa dipakai untuk kegiatan mengirim sandi, aneka macam mesin sandi, game sandi, dan sejarah persandian di Indonesia khususnya pada periode 1946 hingga saat ini.

Para siswa melihat koleksi mesin sandi

Para siswa melihat koleksi mesin sandi

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Museum Tembi Rumah Budaya di Yogyakarta

tembi-rumah-budaya-300x208

Museum Tembi rumah budaya terletak di Jalan Parangtritis Km 8.4, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Yogyakarta. Museum Tembi Rumah Budaya merupakan museum yang menyimpan benda -benda warisan budaya Jawa. Museum tembi ini di resmikan pada tanggal 21 Oktober 1999 yang pada awalnya merupakan sebuah Lembaga Studi Jawa. Kemudian pada tanggal 6 september 1995, museum ini dipindahkan ke dusun Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

gamelan-300x146

Koleksi Museum Tembi Rumah Budaya berjumlah kurang lebih 3000 ribu seperti keris, tombak, dan pedang. Wayang kulit, buku-buku sastra Jawa kuno: Babad Tanah Jawi, Babad Sundayana, Babad Mangir, dan Babad Pati. Berbagai macam motif batik dan mainan anak tradisional.

keris-300x184

 

wayang-300x146

Tempat untuk memamerkan koleksi museum ditempatkan pada dua ruangan museum dan sebuah balai rupa Dan untuk buku serta koleksi audio yang berupa kaset di tempatkan di sebuah perpustakaan.

perpus

 

reklame

Berikut beberapa koleksi di Museum Tembi Rumah Budaya:

  1. Senthong Senthong (bilik atau kamar), merupakan tata ruang dalam rumah adat Jawa. Senthong di bagi menjadi tiga yaitu senthong tengah, senthong kiwo (kiri) dan senthong tengen (kanan). Senthong tengah yang sering disebut ruang Dewi Sri (Dewi Kesuburan) yang berfungsi sebagai tempat berdoa kepada Tuhan. Senthong Kiwo biasanya berfungsi untuk menyimpan hasil panen. Senthong tengen berfungsi sebagai tempat tidur.
  2. Senjata Senjata yang dipamerkan di museum ini berupa keris, pedang dan tombak dengan berbagai jenis baik dari pamor, dapur, tangguh, warangka.
  3. Reklame Berbagai bentuk reklame yang dipamerkan di ruang balai rupa satu.

Bersumber dari : www.travel2leisure.com

Musik, media mengenal museum

Musik tidak hanya menjadi salah satu obyek koleksi museum, tetapi juga bisa menjadi media menarik bagi pengunjung untuk lebih dekat mengenal museum. Itulah setidaknya yang dilakukan oleh Museum Tembi Rumah Budaya dan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Musik sebagai media perangsang yang dipakai memang berbeda. Museum Tembi menggunakan musik tradisional karawitan Jawa, sementara Museum Benteng Vredeburg melalui drumband. Namun kedua museum bertujuan sama, yakni ingin memberikan apresiasi kepada masyarakat agar terus tertarik dengan museum.

Bermain karawitan adalah salah satu program yang selalu ditawarkan sekaligus diminati oleh pengunjung yang datang ke Museum Tembi. Seperti yang dialami oleh rombongan turis asing, antara lain dari Jerman, Belanda, Italia, Malaysia, Kanada, dan Saudi Arabia pada Sabtu (23/7) lalu ketika berkunjung ke Museum Tembi. Rombongan yang berjumlah 32 orang ini, tiba di Tembi tidak hanya melihat-lihat koleksi unik yang dimiliki museum, tetapi juga melakukan praktik langsung menabuh gamelan Jawa.

Awalnya mereka canggung dengan alat musik tradisional karawitan. Namun setelah satu jam bermain, akhirnya mereka mulai bisa menabuh, walaupun belum begitu trampil sekali. Gending yang dibawakan adalah Sluku-Sluku Bathok. Mereka ada yang menabuh bonang, gender, saron, kenong, gong, dan kempul. Rombongan tersebut dibagi menjadi tiga kelompok. Bahkan malam harinya, mereka diminta untuk menampilkan kebolehannya menabuh gamelan di ampiteater Tembi disaksikan teman-temannya.

Tidak hanya sebatas bermain gamelan, mereka di Museum Tembi juga menikmati suasana pedesaan dengan bersepeda santai keliling desa, praktik memasak tradisional, membatik, melukis wayang, membajak sawah, dan permainan tradisional. Yang paling terkesan, mereka tidur di penginapan Tembi yang bernuansa rumah-rumah desa unik berdinding gebyog, tentu saja dengan fasilitas seperti hotel berbintang.

Sementara itu, Museum Benteng Vredeburg mencoba membangkitkan apresiasi dan ketertarikan museum kepada masyarakat terutama generasi muda dengan cara menggelar lomba “Drumband Tingkat SD Se-Provinsi DIY”. Kegiatan ini sebagai salah satu penjabaran misi museum, yang antara lain museum sebagai sarana edukasi, pariwisata, pusat informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pelestarian, penyajian, dan pengembangan sejarah dan budaya dengan nuansa edutainment. Demikian dikatakan Kepala Museum Benteng Vredebug Yogyakarta dalam sambutan pembukaan Lomba Drumband di Plaza Serangan Oemoem (SO) Satu Maret, Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Minggu (24/7) lalu.

Lomba drumband diikuti oleh 24 SD di wilayah DIY dan Jawa Tengah. SD peserta lomba antara lain: SD Sewon I Bantul, SD Panembahan Yogyakarta, SD Sidorejo Kalasan Sleman, SDN 2 Wates Kulon Progo, SD Menoreh Salaman Magelang, dan SD Manisrenggo Klaten. Pada lomba drumband tersebut, para peserta selain berkompetisi diharapkan juga bisa memanfaatkan Museum Benteng sebagai tempat belajar mengenal sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu. Bahkan salah satu lagu wajib dalam lomba tersebut harus bertema perjuangan, seperti Halo-Halo Bandung, Maju Tak Gentar, Dari Sabang Sampai Merauke, dan sebagainya. Lagu pilihan bebas dan setiap peserta boleh membawakan 3-4 lagu.

Penilaian lomba didasarkan pada analisa musik (melodi, perkusi, aransemen) dan showmanship (penampilan, kekompakan). Yuri lomba ada tiga yakni: Drs. Agus Untung Yulianto (FBS UNY), Sugiarto, SPd (SMM Kasihan Bantul), dan Drs. Eko Widodo, MPd (MIPA UNY). Dari hasil penilaian, yang memperoleh juara I—V adalah: Juara I SD IT BIAS Yogyakarta (nilai 733,30); juara II SD Muhammadiyah Noyokerten, Sleman (nilai 706,13); juara III SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta (nilai 703,90); juara harapan I SD Jurugentong Bantul (nilai 686,20); dan juara harapan II SD Muhammadiyah Sukonandi Yogyakarta (nilai 685,90). Masing-masing pemenang memperoleh piagam, tropi, dan uang pembinaan, yang besarnya antara Rp 1,5 juta—Rp 500 ribu.

Teks: Suwandi
Foto: Sartono, Suwandi

Bersumber dari : http://www.tembi.net

Sejarah Museum Abdul Haris Nasution

Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution atau lebih singkatnya Museum Abdul Haris Nasution merupakan sebuah museum pahlawan nasional Indonesia yang berada di jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat.

Gedung Museum ini pada mulanya merupakn kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Selanjutnya keluarga Nasution pindah rumah pada tanggal 29 Juli 2008 dan sejak itulan dimulainya renovasi rumah pribadi tersebut untuk dijadikan museum.

Di kediaman ini Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution telah menghasilkan banyak karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negaranya.

Di tempat ini pulalah pada tanggal 1 Oktober, 1965 telah terjadi peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI berupaya menculik dan membunuh beliau, namun hal ini gagal dilakukan. Dalam peristiwa tersebut, putri kedua beliau, Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur.

Museum Nasional Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution diresmikan pada hari Rabu, 3 Desember, 2008 sore (bertepatan dengan hari kelahiran Pak Abdul Haris Nasution), oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Museum yang luasnya 2.000 meter persegi tersebut, merupakan prasasti hidup dan kehidupan Jenderal Besar A.H. Nasution dan keluarga. ”Semoga museum ini akan menjadi mata air yang mengalirkan kiprah, memberikan arah, mengajak kebijakan dalam bertindak, berkelana untuk menemukan makna bagi generasi muda negeri ini. Mata air yang menumbuh suburkan keadilan kuantitatif dan kualitatif,” kata Bu Nas.

Dalam sambutannya, Presiden SBY mengatakan bahwa monumen sejarah ini akan menjadi kebanggaan para prajurit TNI serta bangsa Indonesia. ”Saya pahami, bahwa tentu tidak semua lintasan dan jejak pengabdian Nasution bisa diabadikan di museum ini. Tetapi, paling tidak ada tonggak-tonggak penting yang dapat dilihat oleh generasi muda kita, dan generasi muda TNI yang akan melanjutkan perjuangan bangsa,” SBY menambahkan.

Presiden SBY juga bercerita mengenai kekagumannya akan almarhum. ”Pak Nas memiliki pemikiran-pemikiran yang brilian. Beliau juga memiliki kepedulian yang tinggi pada pendidikan dan dunia pengetahuan. Buku karya Pak Nas yang berjudul Tentara Nasional Indonesia, Pokok-Pokok Perang Gerilya dan Sekitar Perang Kemerdekaan, telah menjadi buku favorit dan telah dibaca berkali-kali oleh Presiden SBY. Presiden kemudian menekan tombol sirene dan penandatanganan prasasti sebagai tanda peresmian Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution.

Dalam acara peresmian museum tersebut, juga dilakukan penyerahan Koleksi Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution oleh Ibu Johana Sunarti Nasution, berupa Pita Tanda Jasa dan Penyerahan Kunci Monumen dan Museum PETA oleh Bapak Himawan Sutanto kepada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo.

Sejarah Museum Wayang

Pada awalnya museum wayang menempati sebuah gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama “de oude Hollandsche Kerk” yang sampai pada tahun 1732 masih berfungsi sebagai tempat peribadatan penduduk sipil dan tentara belanda Belanda yang tinggal di Batavia. Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan dan berganti nama menjadi “de nieuwe Hollandsche Kerk” sampai dengan tahun 1808.

Pada saat ini di halaman gereja itu dijadikan taman terbuka Museum wayang yang didalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasasti yang berjumlah 9 buah yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang dimakamkan di halaman gereja tersebut. Salah satu dari prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen yang merupakan gubernur jendral yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada thun 1619.
Pada tahun 1908 terjadi gempa yang menyebabkan gereja belanda tersebut rusak dan setelah itu lokasi bekas gereja dibangunlah gedung yang nampak seperti sekarang.

Pada tahun 1912 bagian muka museum ini dibangun dengan gaya Noe Reinaissance dan pada tahun 1938 seluruh gedung dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah belanda pada zaman kompeni.
Sesuai dengan besluit pemerintah Hindia Belanda tertanggal 14 Agustus 1936 ditetapkanlah gedung berserta tanahnya menjadi monumen.
Selanjutnya dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yaitu lembaga independent yang didirikan untuk tujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian.

Pada tahun 1937 oleh lembaga tersebut gedung tersebut diserahkan kepada Stichting oud Batavia dan kemudian dijadikan museum dengan nama “de oude Bataviasche Museum” atau “museum Batavia lama”

Selama pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan RI, museum tersebut tidak terawat dan pada tahun 1957 diserahkan kepada Lembaga kebudayaan Indonesia dan diganti nama menjadi “Museum Jakarta Lama”

Pada tanggal 1 Agustus 1960 namanya disingkat menjadi “Museum Jakarta”. Sejak kepindahan Museum Jakarta ke Gedung Stadhuis maka gedung ini dijadikan Museum wayang.

Museum Negeri Bengkulu

Museum Negeri Bengkulu berada di bagian selatan dari jalan utama kota Bengkulu, yaitu di jalan Pembangunan. Disini kita dapat melihat berbagai macam benda benda bersejarah. dan juga baju batik buatan Bengkulu yang dinamakan kain Besurek.
Selain itu pula di Museum negeri Bengkulu mempunyai koleksi 99 jenis mata uang kuno baik logam maupun kertas yang pernah beredar di Indonesia dan menjadi peninggalan sejarah.

Uang kuno di Museum Negeri Bengkulu meliputi Gulden, Florin, Rupiah, dan Sen, yang memiliki nilai sejarah berbeda, mulai dari daerah dan tahun yang pengeluaran.

Jenis Gulden sebanyak 13 koleksi, Florin 31, Rupiah 54 dan Sen satu koleksi. Gulden dikeluarkan oleh Belanda pada 1833. Dengan bahan dari perak hanya dua keping masing tahun 1833 dan 1853, sedangkan yang lain terbuat dari kertas. Benda jenis mata uang Gulden terbuat dari bahan perak dengan diameter 3,5 cm ketebalan 0,45 cm serta beratnya 40 gram.

Sementara koleksi jenis tanda jasa, lambang, pangkat resmi, dan lainnya seperti cap serta stempel masuk pada jenis Heraldika yang juga ada di koleksi museum Negeri Bengkulu ini.
Total kumpulan benda bersejarah di museum Negeri Bengkulu terdapat 6.070 benda sejarah.

Belajar Kebudayaan, Adat-Istiadat Dan Sejarah Di Museum

Biasanya kita mendapat pelajaran sejarah di sekolah kita. Tetapi mungkin pelajaran ini selalu membuat kita bosan. Pelajaran sejarah ini dikembangkan unruk membuat kita bisa menghargai adat-istiadat dan peradaban bangsa. Juga membuat kita untuk lebih memahami sejarah dari nenek-moyang kita. Supaya membuat kita makin menghargai sejarah maka ada sebuah tempat yang menyimpan benda-benda bersejarah, sisa-sisa benda purbakala, dan barang peninggalan yang namanya adalah museum. Ini penting bagi kita yang ingin mempelajari sejarah. Melalui seluruh benda bersejarah yang dipamerkan kita bisa melihat budaya yang tercermin darinya di tempat tersebut. Hal ini sangat menarik untuk dipelajari.

Dengan mengunjungi museum maka bisa membuat pengetahuan akan sejarah dan kebudayaan anda berkembang. Biasanya akan ada seorang pemandu yang akan menjelaskan segalanya kepada pengunjung. Anda bisa bertanya kepada pemandu bila anda ingin tahu tentang sesuatu di tempat itu. Biasanya juga ada tulisan yang menerangkan segala sesuatu yang dipamerkan di situ. Hal ini akan semakin mempermudah si pemandu dalam menjelaskan sesuatu kepada pengunjung. Museum dibangun dengan tujuan tertentu.

Maksudnya bahwa ada focus yang berbeda-beda di tiap museum, seperti misalnya museum angkatan bersenjata, museum kepurbakalaan, museum penerbangan, dan lain-lain. Jadi jika anda ingin ke sana maka anda harus menentukan yang mana yang akan anda kunjungi. Kebanyakan dari kita lebih suka datang ke museum yang lebih spesifik seperti yang telah disebutkan di atas. Karena mungkin tempat-tempat tersenut lebih menyenangkan dan berhubungan dengan hobi kita. Tetapi museum yang umum mungkin kurang menyenangkan sebab ada terlalu banyak benda sejarah yang dipertontonkan di sana dan biasanya tempat tersebut kurang memiliki sentuhan dekorasi yang nyeni. Jadi keadaan tersebut membuat kita jadi bosan.

Kita tidak dapat kembali ke masa lalu tetapi kita bisa telusuri jejak bukti-bukti sejarah di museum. Jadi inilah tempat yang pasti ditangani dengan baik oleh pemerintah. Ia akan selelu mengingatkan kita akan fakta-fakta sejarah di masa lampau. Kita bisa mempelajari adat dan kebudayaan ketika mengunjungi tempat ini. Kita tidak hanya belajar teori dari pelajaran di sekolah saja tetapi kita juga bisa melihat bukti-bukti kenyataannya di tempat ini.