Musik tidak hanya menjadi salah satu obyek koleksi museum, tetapi juga bisa menjadi media menarik bagi pengunjung untuk lebih dekat mengenal museum. Itulah setidaknya yang dilakukan oleh Museum Tembi Rumah Budaya dan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Musik sebagai media perangsang yang dipakai memang berbeda. Museum Tembi menggunakan musik tradisional karawitan Jawa, sementara Museum Benteng Vredeburg melalui drumband. Namun kedua museum bertujuan sama, yakni ingin memberikan apresiasi kepada masyarakat agar terus tertarik dengan museum.

Bermain karawitan adalah salah satu program yang selalu ditawarkan sekaligus diminati oleh pengunjung yang datang ke Museum Tembi. Seperti yang dialami oleh rombongan turis asing, antara lain dari Jerman, Belanda, Italia, Malaysia, Kanada, dan Saudi Arabia pada Sabtu (23/7) lalu ketika berkunjung ke Museum Tembi. Rombongan yang berjumlah 32 orang ini, tiba di Tembi tidak hanya melihat-lihat koleksi unik yang dimiliki museum, tetapi juga melakukan praktik langsung menabuh gamelan Jawa.

Awalnya mereka canggung dengan alat musik tradisional karawitan. Namun setelah satu jam bermain, akhirnya mereka mulai bisa menabuh, walaupun belum begitu trampil sekali. Gending yang dibawakan adalah Sluku-Sluku Bathok. Mereka ada yang menabuh bonang, gender, saron, kenong, gong, dan kempul. Rombongan tersebut dibagi menjadi tiga kelompok. Bahkan malam harinya, mereka diminta untuk menampilkan kebolehannya menabuh gamelan di ampiteater Tembi disaksikan teman-temannya.

Tidak hanya sebatas bermain gamelan, mereka di Museum Tembi juga menikmati suasana pedesaan dengan bersepeda santai keliling desa, praktik memasak tradisional, membatik, melukis wayang, membajak sawah, dan permainan tradisional. Yang paling terkesan, mereka tidur di penginapan Tembi yang bernuansa rumah-rumah desa unik berdinding gebyog, tentu saja dengan fasilitas seperti hotel berbintang.

Sementara itu, Museum Benteng Vredeburg mencoba membangkitkan apresiasi dan ketertarikan museum kepada masyarakat terutama generasi muda dengan cara menggelar lomba “Drumband Tingkat SD Se-Provinsi DIY”. Kegiatan ini sebagai salah satu penjabaran misi museum, yang antara lain museum sebagai sarana edukasi, pariwisata, pusat informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pelestarian, penyajian, dan pengembangan sejarah dan budaya dengan nuansa edutainment. Demikian dikatakan Kepala Museum Benteng Vredebug Yogyakarta dalam sambutan pembukaan Lomba Drumband di Plaza Serangan Oemoem (SO) Satu Maret, Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Minggu (24/7) lalu.

Lomba drumband diikuti oleh 24 SD di wilayah DIY dan Jawa Tengah. SD peserta lomba antara lain: SD Sewon I Bantul, SD Panembahan Yogyakarta, SD Sidorejo Kalasan Sleman, SDN 2 Wates Kulon Progo, SD Menoreh Salaman Magelang, dan SD Manisrenggo Klaten. Pada lomba drumband tersebut, para peserta selain berkompetisi diharapkan juga bisa memanfaatkan Museum Benteng sebagai tempat belajar mengenal sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu. Bahkan salah satu lagu wajib dalam lomba tersebut harus bertema perjuangan, seperti Halo-Halo Bandung, Maju Tak Gentar, Dari Sabang Sampai Merauke, dan sebagainya. Lagu pilihan bebas dan setiap peserta boleh membawakan 3-4 lagu.

Penilaian lomba didasarkan pada analisa musik (melodi, perkusi, aransemen) dan showmanship (penampilan, kekompakan). Yuri lomba ada tiga yakni: Drs. Agus Untung Yulianto (FBS UNY), Sugiarto, SPd (SMM Kasihan Bantul), dan Drs. Eko Widodo, MPd (MIPA UNY). Dari hasil penilaian, yang memperoleh juara I—V adalah: Juara I SD IT BIAS Yogyakarta (nilai 733,30); juara II SD Muhammadiyah Noyokerten, Sleman (nilai 706,13); juara III SD Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta (nilai 703,90); juara harapan I SD Jurugentong Bantul (nilai 686,20); dan juara harapan II SD Muhammadiyah Sukonandi Yogyakarta (nilai 685,90). Masing-masing pemenang memperoleh piagam, tropi, dan uang pembinaan, yang besarnya antara Rp 1,5 juta—Rp 500 ribu.

Teks: Suwandi
Foto: Sartono, Suwandi

Bersumber dari : http://www.tembi.net

About these ads